Banyak lajang menghindar dari pertanyaan “Kapan nikah?” Katanya, meski hanya dua kata, pertanyaan itu terasa menusuk, menghujam kuat di dalam dada. Ya, menusuk laksana tertusuk duri, menyayat ibarat sembilu.
Ah, segitunya? Betapa tidak, meski sebenarnya retorik, pertanyaan itu memantik kembali alam kesadaran orang yang menjadi sasaran penanya bahwa ia masih lajang, sementara teman-temannya semua telah menikah. Konon lagi, pertanyaan itu melahirkan “libido” kegelisahan, mungkin berujung insomnia, tatkala mengingat kawan-kawannya sudah punya anak satu, dua, tiga, bahkan sebanyak tim pemain sepak bola. Lengkap sudah penderitaan hati, makin tertusuk dan makin tersayat J.
Belum lagi mengingat isi kantong, tempat bersemayam pundi-pundi uang. Jumlahnya jauh yang diharapkan bila itu disandingkan dengan jeulamèe plus pèng angoh (di daerah tertentu). Nihil, tidak ada harapan, dunia seperti kiamat. Memang Allah akan mempermudah jalan orang yang ingin mempersunting tambatan hatinya. Tapi tetap saja semua perlu pengorbanan, tak bisa simsalabim, dan jalan yang ditempuh pun berliku, bahkan menikung. Semuanya tentu saja untuk menunjukkan bahwa bila ingin sesuatu haruslah berusaha, tak cukup hanya mimpi.
Yang pasti, pertanyaan kapan nikah tetap membayang-bayangi setiap insan lajang, tak peduli waktu. Kapan pun dan di mana pun, ia siap “meneror” setiap bujangan, mungkin lebih horor daripada hantu Valak dalam The Conjuring 2 J
Akibat pertanyaan itu, banyak bujang berusaha keras, sekuat tenaga, ikat keu-ieng mencapai puncak kebahagiaan duniawi itu, ya itulah menikah. Ada yang gagal, ada pula yang berhasil.
Yang gagal, bisa jadi menempuh jalan pintas, seperti bunuh diri atau lari kawin (bukan kawin lari ya sebab yang dilakukan pasti lari dulu, baru kawin) J. Ada pula yang menempuh jalan aman, murah meriah, tak berliku, tetapi menyalahi rambu-rambu agama, seperti menghamili dulu, baru nikah (saya sebut ini hamil kawin J). Semoga kita dijauhkan dari semua ini.
Yang berhasil tentu saja hatinya yang tersayat dan teriris tadi mendadak sembuh. Kuntum-kuntum bunga pun bermekaran, kadang tampak ia tersenyum sendiri membayangkan duduk di pelaminan. Kalau dilihat detail, tingkahnya mirip orang gila. Maklum, masih berbunga-bunga.
Yang juga membuat bahagia adalah terbebas dari pertanyaan “Kapan Nikah?” Namun, ingat. Perjuangan belum selesai. Bersiap-siaplah menghadapi pertanyaan “Sudah punya anak?”, “Berapa orang anak?” Lagi-lagi ini pertanyaan retoris, tetapi sebenarnya tersirat pesan bahwa pasangan pengantin ibu sebaiknya bergegas berusaha memiliki anak agar pertanyaan itu tenggelam, terkubur di hati pekat si penanya.
Kalau belum punya anak, ada pertanyaan selanjutnya yang lebih meneror tinimbang kapan nikah: “Kok belum punya anak?”, “Kok bisa belum punya anak, kan sudah lama nikah”, dan beragam pertanyaan “kok” yang lain, siap menerkam kapan saja laksana harimau.
Kalau sudah begini, pasangan suami istri itu terbebani psikologisnya. Makan tak lezat, tidur tak nyenyak. Imbasnya, berbagai cara ditempuh. Ada yang konsultasi ke dokter, minum berbagai ramuan tradisional, bahkan ada yang ke dukun. Sayangnya hasilnya nol. Tak cukup di situ, ada yang menghabiskan uang jutaan rupiah untuk membuat bayi tabung. Tak peduli berapa pundi terkuras, lampôh, umeng dijual demi mendapatkan anak.
Kalau sudah punya anak, jangan dibayangkan pertanyaan telah usai. Pertanyaan selanjutnya, “Anaknya kok satu, kenapa nggak dua, tiga,” dan berbagai pertanyaan lain yang menurut saya juga retorik. Dipikirnya punya anak itu lagèe tatôh boh manok, lheuh nyah cèh, meureut-reut bak jalan. Parahnya lagi, si penanya membawa-bawa nama nabi. Katanya sunnah kalau punya anak banyak.
Benar, punya banyak anak sunnah, tapi bukankah anak itu titipan Allah. Ia harus dijaga sebaik mungkin, tidak boleh sampai telantar. Ia juga dianjurkan untuk disapih hingga dua tahun. Sayangnya, belum sampai dua tahun, si anak sudah jadi kakak. Kasihan bukan, padahal ASI adalah anugerah terindah dari Allah untuk anak. Tak tergantikan oleh susu formula.
Terlepas dari itu semua, yang pasti hidup ini selalu dibayang-bayangi oleh pertanyaan dan harus dijawab atau diam saja. Jangan berpikir setelah menikah orang terbebas dari pertanyaan-pertanyaan meneror seperti itu. Pastinya itu tetap akan ada dan sebaiknya tentu disikapi dengan bijak. Ingat, setelah menikah, perjuangan untuk terbebas dari pertanyaan belum usai.[]

No comments:
Post a Comment