![]() |
| Ilustrasi: ciwir.blogspot.co.id |
Seberapa
penting kata terima kasih itu
diucapkan? Bagi saya ucapan yang terdiri dari dua kata itu penting sekali
diucapkan oleh siapa saja kepada lawan bicaranya tatkala ia menerima jasa
tertentu atau menerima hadiah dari orang lain atau apalah alasan lainnya.
Kalau
saya membeli sesuatu, misalnya, lalu setelah memberikan uang dan saya menerima
barangnya, saya sangat senang ketika penjual mengucapkan “Terima kasih, ya!”
Memang kalau dipikir-pikir tidak penting mengucapkan terima kasih. Toh, dia
sudah membayar dan barangnya sudah dia terima.
Memang
sebenarnya kondisinya begitu, tapi bagi saya bisnis itu bukan sekadar persoalan
barang dan uang. Anda membeli di kedai saya, Anda bayar, barang saya kasih.
Selesai cerita. Ini belum selesai menurut saya.
Penjual
perlu membangun hubungan emosional dengan pembeli. Caranya melalui ucapan
terima kasih itu. Pembeli merasa senang ketika kepadanya diucapkan terima
kasih. Karena senang itulah, ia lalu datang kembali ke kedai tersebut untuk
membeli. Malah bisa menjadi pelanggan si penjual. Semua itu hanya gara-gara
ucapan terima kasih.
Mengapa
penjual perlu mengucapkan terima kasih kepada pembeli? Saya kasih logikanya
begini. Andai kata Anda penjual baju. Pastinya selain Anda, ada puluhan penjual
baju lainnya yang sama menjajakan barang yang sama dengan Anda dan kedai mereka
berdampingan dengan Anda.
Nah,
mengapa dia tidak membeli di kedai orang lain, tetapi justru datang ke kedai
Anda? Jawabannya sederhana, karena kedai Anda memikat baginya, entah karena
apa. Mungkin banyak jenis pakaiannya, mungkin murah dibandingkan kedai lain,
mungkin juga karena senyum Anda yang mengambang ketika calon pembeli melewati
kedai Anda.
Terserah
apa pun alasannya. Yang pasti itu adalah kesan pertama. Maka, manfaatkan kesan
pertama itu sebaik mungkin sebelum pembeli hanya membeli di kedai Anda untuk
pertama dan terakhir.
Cara
memanfaatkannya bagaimana? Ya, gampang saja. Layani pembeli dengan baik.
Bertuturlah yang lembut. Kalau pembeli menawar harga barang yang tidak logis,
misalnya harga barang 70 ribu, dia minta 20 ribu, perbanyak sabar. Jangan marah
karena dia menawar dengan harga begitu. Tetap tersenyum. Jangan katakan, “Oooo,
jak mita u keudѐe laén keudéh.” Ingat, tetap tersenyum. Terakhir, jika dia
membeli barang kita, setelah barang kita berikan, ucapkan, “Terima kasih ya!”
atau “Teurimong gaséh beh. Pѐng keu lôn, barang keu droen.”
Ini
penting menurut saya. Inilah cara
membangun hubungan emosional dengan membeli. Saya yakin, hanya karena terima
kasih, pembeli akan kembali berbelanja lagi ke kedai Anda. Sekian![]
