Pendahuluan
Dalam setiap pembelajaran sastra,
termasuk pula pembalajaran bahasa atau pembelajaran lainnya, keberhasilan
pembelajaran merupakan dambaan setiap guru. Rasa kecewa yang sangat mendalam
tentu saja akan muncul dari pribadi guru itu sendiri manakala pembelajaran yang
ia lakoni tidak menghasilkan apa-apa bagi peserta didik. Oleh karena itu, ia
akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai keberhasilan pembelajaran
sastra yang ia lakoni tersebut. Usaha yang ia lakukukan ini juga membuktikan
keprofesionalan ia sebagai seorang guru.
Usaha-usaha
yang ia lakukan untuk mencapai keberhasilan tersebut dapat berupa merumuskan
tujuan pembelajaran, memilih metode, teknik, dan model pembelajaran, dan
memilih materi ajar. Namun, hal yang sangat disayangkan adalah munculnya
kendala ketika sang guru mencoba untuk melakukan hal itu. Kendala ini tentu
saja muncul dalam berbagai bentuk, baik bersumber dari diri guru itu sendiri
maupun dari luar pribadi guru.
Dalam
hal memilih materi ajar sastra, misalnya, guru dihadapkan pada masalah
bagaimana memilih materi, materi apa yang cocok diajarkan pada siswa serta sesuai
dengan yang diharapkan dalam kurikulum, apa saja yang harus diperhatikan untuk
memilih materi, berada pada ranah apakah materi yang diajarkan tersebut, serta
beragam pertanyaan lain yang muncul dari benak guru.
Betapa
pentingnya materi ajar dalam sebuah pembelajaran sehingga para ahli evaluasi
memasukkan materi ajar ke dalam kategori input untuk mencapai hasil (out come) pembelajaran. Input refers to all the equipment and tool
for instruction. The input include textbooks, library books, workbooks, laboratory
exercise, pamphlets, computer software, and all photocopied and chalkboard
exercises that pervade classroom instruction (Gunter, et all , 1990:57).
Guru kadangkala bingung
harus memilih materi yang bagaimana saat akan mengajarkan sastra pada anak. Puncak
dari kebingungan ini adalah terpilihnya materi ajar yang tidak sesuai dengan
kebutuhan siswa atau barangkali tidak sesuai dengan kurikulum. Padahal,
kemampuan memilih materi ajar yang cocok oleh guru mutlak diperlukan karena
materi ajar merupakan salah satu input yang sepatutnya harus ada dalam sebuah
pembelajaran. Efek yang ditimbulkan dari kebingungan ini adalah tidak sesuainya
materi yang diajarkan oleh guru dengan tuntutan kurikulum sekolah dan kebutuhan
siswa sehingga dapat menimbulkan kesan bahwa pembelajaran sastra merupakan
pembelajaran yang membingungkan dan membosankan. Kesan seperti ini tentu saja sangat tidak
diinginkan oleh setiap guru yang mengajarkan sastra. Guru yang baik akan
berusaha semaksimal mungkin menjadikan pembelajaran sastra sebagai sebuah
pembelajaran yang sangat menyenangkan dan bermakna bagi siswa.
Berdasarkan penjelasan
di atas, judul tulisan ini adalah Teknik
Pemilihan Materi Ajar Sastra. Hal yang dibicarakan dalam makalah ini adalah
seputar pemilihan materi ajar sastra yang meliputi bagaimana memilih materi
ajar sastra, hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam memilih materi
ajar, dan beragam permasalahan lain yang dianggap relevan dengan pokok
pembicaraan.
Masalah
Masalah yang dibicarakan dalam
makalah ini adalah bagaimana memilih
materi ajar sastra?
Cara Pemecahan Masalah
Materi ajar dapat
dipilih dengan memperhatikan beberapa hal:
1. tujuan pembelajaran;
2. tingkat kelas;
3. alokasi waktu;
4. penekanan
5. kesatuan
6. koherensi
7. repetisi dan elaborasi
8. kosakata yang tepat
9. tingkat pertanyaan
Pembahasan dan Pemecahan Masalah
Pengertian Materi Ajar Sastra
Materi ajar (material instruction) pada hakikatnya merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari silabus. Secara garis besar, dapat dikemukakan bahwa materi ajar adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai oleh peserta
didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan (Depdiknas,
2008:3). Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa materi ajar adalah materi
yang di dalamnya berisi pengetahuan, keterampilan atau sikap yang yang dituntut
untuk dikuasai oleh siswa.
Dengan demikian,
berdasarkan uaraian di atas, dapat dikatakan bahwa materi ajar sastra adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berkaitan
dengan kesastraan yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam rangka memenuhi
standar kompetensi yang ditetapkan.
Materi ajar sastra,
layaknya materi-materi ajar yang lain, menempati posisi yang sangat penting
dari keseluruhan kurikulum dan harus dipersiapkan secara matang agar
pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai
dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta
didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya
merupakan materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan
kompetensi dasar, serta tercapainya indikator.
Jenis-jenis Materi Ajar
Jenis-jenis materi ajar
dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1) Fakta adalah segala hal yang
berwujud kenyataan dan kebenaran meliputi nama-nama objek, peristiwa sejarah,
lambang, nama tempat, nama bagian atau komponen suatu benda dan sebagainya.
2) Konsep adalah segala yang berwujud
pengertian-pengertian baru yang dapat timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi
definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti/isi, dsb..
3) Prinsip adalah berupa hal-hal utama,
pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, dalil, rumus, adagium,
postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan
implikasi sebab akibat.
4) Prosedur adalah langkah-langkah
sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem.
5) Sikap atau nilai merupakan hasil
belajar aspek sikap, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong,
semangat, minat belajar dan bekerja (Depdiknas, 2008:3-4)
Materi-materi ajar yang disebutkan
di atas akan dipilih oleh guru-guru untuk disampaikan kepada peserta didik.
Pemilihan terhadap materi ajar-materi ajar tersebut tentunya tidak secara acak
dan sesuka hati. Guru dalam memilih materi tersebut harus memperhatikan
berbagai hal agar materi yang dipilih sesuai dengan tuntutan kurikulum.
Pemecahan Masalah
Sebelum dijelaskan ihwal
teknik pemilihan materi ajar, terlebih dahulu perlu kiranya dijelaskan
tentang pengertian materi ajar itu
sendiri. Materi ajar adalah segala bentuk materi yang digunakan untuk
membantu guru/instruktur
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Materi yang dimaksud dapat berupa materi tertulis atau materi tidak tertulis. Ada
juga yang menyebut bahwa materi ajar merupakan seperangkat
materi/substansi pelajaran yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok
utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Materi ajar memungkinkan
siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut
dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi
secara utuh dan terpadu. Materi ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang
diperlukan guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa materi ajar adalah seperangkat materi yang disusun
secara sistematis sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan
siswa untuk belajar. Materi ajar paling tidak dapat dikelompokkan menjadi
empat, yaitu materi cetak, materi ajar dengar, materi ajar pandang dengar,
serta materi ajar interaktif. Materi ajar bertujuan untuk membantu siswa dalam mempelajari
sesuatu, menyediakan berbagai jenis pilihan materi ajar, memudahkan guru dalam
melaksanakan pembelajaran, serta menjadikan kegiatan pembelajaran lebih menarik.
Manfaat materi ajar adalah membantu pelaksanaan belajar mengajar, dapat
diajukan sebagai karya yang dinilai untuk menambah angka kredit guru untuk
keperluan kenaikan pangkat, selanjutnya akan menambah penghasilan guru apabila
hasil karangannya diterbitkan. Jenis materi ajar, antara lain:
1) materi ajar cetak ialah materi yang dapat ditampilkan dalam
berbagai bentuk seperti handout, buku, modul, evaluasi, lembar
kegiatan siswa, brusur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/market;
2) materi
ajar dengar seperti
kaset dan radio;
3) materi
ajar pandang dengar seperti
video, orang/narasumber.
4) materi ajar interaktif seperti berupa kombinasi dari dua buah meteri ajar yaitu, audio
dan visual. Contohnya dapat berupa, teks, grafik, dan
sebagainya.
Di atas telah disebutkan
sejumlah materi yang sepatutnya dipilih oleh para guru dalam pembelajaran. Pemilihan
dan pentuan materi ajar dimaksudkan untuk memenuhi salah satu kriteria bahwa
materi ajar harus menarik dan
dapat membantu siswa untuk mancapai kompetensi. Jenis dan bentuk materi ajar ditetapkan
atas dasar analisis kurikulum dan analisis sumber materi sebelumnya. Peta
kebutuhan materi ajar disusun setelah diketahui berapa banyak materi ajar yang
harus dipersiapkan
melalui analisis kebutuhan materi ajar. Di samping itu peta dapat pula digunakan
untuk menentukan sifat materi ajar, apakah dependen (tergantung) atau
independen (berdiri sendiri). Materi ajar dependen adalah materi ajar yang ada
kaitannya antara materi ajar yang satu dengan materi ajar yang lain sehingga dalam penulisannya
harus saling memperhatikan satu sama lain, sedangkan materi ajar independen adalah materi ajar yang berdiri
sendiri atau dalam penyusunannya tidak harus memperhatikan atau terikat dengan
materi ajar yang lain.
Pemilihan materi-materi
tersebut harus memperhatikan tuntutan kurikulum. Jika dikaitkan dengan
kurikulum KTSP sekarang, dapat dikatakan bahwa materi yang dipilih haruslah
sesuai dengan tuntutan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tertera
dalam kurikulum. Untuk mencapai hal tersebut, guru seharusnya memperhatikan
teknik-teknik dalam memilih materi ajar. Ketepatan dalam memilih materi ajar
ini memperlihatkan keprofesionalan seorang guru.
Berkaitan
dengan teknik memilih materi ajar ini, terdapat beberapa saran ahli yang dapat
dijadikan pedoman. Gunter, et all. (1990:59) menyebutkan bahwa terdapat delapan teknik yang harus
diperhatikan dalam memilih materi ajar. Kedelapan teknik yang dimaksud adalah
(1) penekanan, (2) kesatuan, (3) kepaduan, (4) repetisi dan elaboraisi, (5)
ketepatan kosakata, (6) kelayakan materi dengan siswa, (7) format, (8) tingkat
pertanyaan). Berikut ini akan dijelaskan kedelapan teknik yang dikemukakan oleh
Gunter tersebut.
(1) Penekanan
Materi ajar sudah sepatutnyalah mengandung penekanan. Penekanan yang dimaksud
adalah penekanan terhadap tujuan pembelajaran. Materi ajar seharusnya
mengisyaratkan kepada siswa tentang tujuan khusus pembelajaran. Jika hal ini
tidak dilakukan, penekanan menjadi samar-samar dan siswa dibingungkan oleh
tujuan pembelajaran yang disusun oleh guru. Materi ajar juga seharusnya
menuntun siswa untuk menyadari di manakah letak penekanan materi ajar tersebut.
Dengan demikian, yang menjadi pertanyaan adalah apakah pokok-pokok pembelajaran telah dinyatakan dengan jelas kepada
siswa dan apakah pokok-pokok pembelajaran tersebut menekankan pada tujuan
pembelajaran?
(2) Kesatuan
Selain dituntut adanya penekanan,
materi ajar juga dituntut memiliki kesatuan.
Yang dimaksud dengan kesatuan adalah adanya hubungan antara pokok-pokok materi
dan keseluruhan substansi materi. Tidak adanya kesatuan dalam materi ajar dapat
diibaratkan seperti pasien yang salah minum obat. Tak akan sembuh-sembuh pasien
yang mancret jika ia meminum obat batuk.
Tidak
adanya kesatuan antara pokok-pokok materi dan keseluruhan substansi materi
dapat disebabkan oleh ditulis ulang dan dieditnya pokok-pokok materi ajar oleh orang
yang berbeda tanpa memperhatikan kesatuan. Akibatnya, banyak pokok materi ajar
yang tidak relevan dengan subtansi keseluruhan materi ajar.
(3) Koherensi
Koherensi sebenarnya berhubungan
dengan kesatuan. Meskipun berhubungan, keduanya memiliki perbedaan. Koherensi
berhubungan dengan keterikatan antara satu ide pokok dan ide pokok yang lain,
sedangkan kesatuan berhubungan relasi antara ide pokok-ide pokok dan topik yang
sama.
(4) Pengulangan dan Perluasan
Materi ajar sebaiknya juga harus
diulang-ulang. Pengulangan ini tentu saja dilakukan dalam bentuk yang
berbeda-beda. Tujuan dilakukan pengulangan adalah untuk mengingatkan siswa
terhadap apa yang telah mereka ketahui dan membantu mereka menghubungkan materi
yang telah mereka ketahui dengan konsep baru. Materi ajar-materi ajar
seharusnya saling berhubungan dan ide-ide yang terkandung dalam materi ajar
tersebut saling membangun. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menanyakan pada
diri sendiri apakah ide-ide yang ditampailkan secara eksplisit berhubungan
dengan ide-ide yang telah diperkenalkan
sebelumnya.
Materi
ajar yang membantu merupakan materi ajar yang menghubungkan pembaca dengan
materi sebelumnya yang menjelaskan konsep yang menurut guru, siswa telah
memahaminya. Pembaca dengan demikian didukung dan diberikan panduan. Materi
ajar juga seharusnya menyediakan kesempatan untuk memperlihatkan informasi
penting dalam beberapa bentuk perluasan.
(5) Kosakata yang Tepat
Untuk memilih materi ajar, hal yang
juga harus diperhatikan adalah ihwal pemilihan kosakata. Artinya, kosakata yang
digunakan dalam materi ajar harus sesuai dengan tingkatan akademik siswa.
Sungguh tidak mungkin jika kita mengajar di tingkat SD, materi ajar yang kita
gunakan mengandung kosakata yang maknanya belum dapat dijangkau oleh pikiran
siswa. Kita tidak mungkin akan memilih materi yang menggunakan kata seperti absurd dan licintia poitica.
(6) Ketepatan Audien
Materi ajar juga harus memperhatikan
ketepatan audien. Artinya, materi ajar sebaiknya memperhatikan siapa audiennya,
tingkatannya, dan wilayah materinya. Materi ajar dikatakan tidak tepat karena
berisi kosakata yang tidak familiar, analogi, metafora, bahasa kiasan, dan
contoh-contoh yang tidak familiar bagi pembelajar. Berkaitan dengan wilayah
materi, guru tentu harus mengajar dari hal-hal yang mudah lebih dahulu, dan
selanjutnya meningkat kepada bahagian-bahagian yang sulit. Mengurutkan
pemberian bahan yang didasarkan pada kadar kesulitan ini disebut juga dengan
istilah penjenjangan. Penjenjangan materi dapat dilihat dari aspek metodologi.
(7) Tingkat Pertanyaan
Jenis pertanyaan yang diajukan dalam
materi ajar harus memperhatikan tingkatannya. Tingkatan yang dimaksud berkaitan
dengan taksonomi Bloom. Dalam ranah kognitif, tingkatan yang dimaksud meliputi
pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, evaluasi. Dengan kata
lain, proporsi penilaian keenam tingkatan kognitif yang disebutkan di atas
harus berimbang. Berikut ini adalah proporsi penilaian keenam tingkatan
kognitif untuk siswa SD, SMTP, dan SMTA.
|
Tingkatan Kognitif |
Proporsi dalam Persentase |
|||||
|
Tingkat Sekolah |
Ingatan (C1) |
Pemahaman (C2) |
Analisis (C4) |
Sintesis (C5) |
Evaluasi (C6) |
Jumlah |
|
SD |
40 |
45 |
- |
- |
- |
100 |
|
SMP |
35 |
40 |
5 |
- |
- |
100 |
|
SMA |
20 |
30 |
15 |
5 |
5 |
100 |
(Nurgiyantoro,
1988:39)
Penyusunan tingkatan kognitif
seperti yang dikemukakan di atas diurutkan dari tingkatan yang paling sederhana
ke yang lebih kompleks. Pengurutan dari tingkat ingatan (C1) sampai
dengan tingkatan evaluasi (C6) tak dapat dipertukarkan karena
penguasaan tingkat sebelumnya dapat dikatakan menjadi prasyarat penguasaan
tingkat di atasnya. Penguasaan tingkat ingatan menjadi prasyarat penguasaan
tingkat pemahaman (C2), penguasaan tingkat ingatan dan pemahaman
menjadi prasyarat penguasaan tingkat aplikasi (C3), dan seterusnya sampai
dengan tingkat evaluasi.
Walaupun
demikian, pembedaan keenam tingkatan kognitif tersebut tampak agak teoretis
karena kita tak dapat membedakan secara eksak keenam tingkatan tersebut,
khususnya tingkatan yang berdekatan (seperti C1 dan C2, C2
dan C3, C5 dan C6). Tingkatan kognitif
dikatakan lebih kompleks daripada tingkatan di bawahnya. Dikatakan demikian
karena dalam kerja kognitif tingkat yang lebih tinggi akan terlibat pula tingkatan
kognitif yang di bawahnya walaupun mungkin tak terlihat secara langsung.
Bukankah penguasaan tingkatan kognitif yang lebih rendah merupakan prasayarat
penguasaan tingkat di atasnya?
Selain
ketujuh faktor di atas, tujuan pembelajaran, tingkat kelas, dan alokasi waktu
juga perlu diperhatikan. Dengan demikian, apabila hal tersebut diperhatikan
materi ajar akan menjadi lebih baik dan siswa akan dengan mudah memahami materi
yang disampaikan oleh guru.
Penutup
Materi ajar adalah segala bentuk materi yang digunakan untuk membantu
guru/instruktur dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Materi ajar sastra dapat dipilih dengan memperhatikan beberapa hal: (1)
tujuan pembelajaran, (2) tingkat kelas, (3) alokasi waktu, (4) penekanan, (5) kesatuan,
(6) koherensi, (7) repetisi dan elaborasi, (8) kosakata yang tepat, (9) tingkat
pertanyaan.
Bahan Bacaan
Depdiknas.
2008. Perangkat Pembelajaran: KTSP.
Depdiknas: Jakarta.
Gunter,
Mary Alice, et all. 1990. Instruction a Model Approach. United
State of America: A Simon & Schuster Company.
Nurgiyantoro.
1988. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa
dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.

No comments:
Post a Comment